Senin, 01 Juni 2015

rexsy puisi TETESAN AIR MATAKU UNTUK BUDAYAKU



CIPTA PUISI
TEMA : berkisar pada pengembangan pengetahuan serta pembinaan peserta didik dalam upaya  
pembentukan dan penguatan nilai – nilai budaya yang hidup di tengah – tengah masyarakat
CIPTAAN : REXSY DWIANTO DUA LEMBANG
                (SMP KATOLIK MAKALE)
                                                                                TETESAN AIR MATAKU
                                                                                    UNTUK BUDAYAKU
Jiwa melekat kepada debu
Jalan –jalan hidup telah aku ceritakan
Petunjukmu tita – tita kami
Pemuka pemuka duduk bersepakat melawan aku

Ya,tuhan
Dalam hening malam ku berdoa
Dibawah kaki sucimu
Kuberjalan bagaikan boneka

Tali – tali duka meliliti aku
Api – api duri membakar tubuhku
Rasanya aku menghilang dimakan waktu
Kini waktu terus memanjang
Hidup jadi bayang – bayang

Tongkat kekuatan jadi tongkat lawan
Kehikmatan jadi ketakutan
Rasanya bumi hilang entah kemana
Hidup kini melarat sendiri
Istana megah jadi gubuk sampah
Puncak gunung jadi jurang penderitaan
Kaki melangkah tanpa tujuan
Hidup ini harus berkata apa?

Kini kau tandus,kering,tak berair
Kini gersanglah yang mendudukimu
Siang,malam
Air matalah makananku
Untuk apakah aku hidup

Album biru jadi kusam
Para pejuang jadi pecundang
Kini ku tak lagi berdaya
Bagai patung diaam merana

Pelita jadi kegelapan
Hidup ini hanyalah sia – sia
Rasanya aku remuk
Kini hidup hanyalah dusta

Kini jalan hanyalah liku – liku
Pengalaman yang tak bijak
Seperti bunga bakung diantara duri – duri
Kini ku hidup bimbang merana
Menanti janji perubahan

Aku seperti mengalau,menggigau,dan merugi diambang mimpi
Raga busukmu terbelenggu jeruji besi
Kini tinggal tulang – tulang diliputi debu
Kepercayaan yang menyerbu
Binasa diatas tindasan

Kata mereka”budaya kita jauh dipandang menawan di hati”
Kata mereka”budaya kita pesona ribuan kata”
Kata mereka” budaya kita ukiran cinta”
Namun sayang itu hanya kata mereka
Sering kubertanya pada diriku sendiri
“dimanakah semuanya itu”
“apakah ini hanya lelucuan”
“hiasan mulut daan mata”

Kini mimpi hanyalaah dongeng
Doa jadi pengharapan
Ku hanya ingin berkata
Sebelum hari petang
Dan warna bayang belum pudar
“marilah kita lestarikan budaya kita kembali’
“karena budaya kita awan negeri ini”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar